Menjadi Backpaker di Sunday Sharing 8 Surabaya

29 Sep 2015

Hmmm…gimana jadinya ya kalau backpacker-backpacker itu kumpul? Nah itu terbukti di keseruan Sunday Sharing yang ke 8 pada hari minggu lalu. Acara yang digelar satu bulan sekali kali ini menyuguhkan tema Backpacking! Berbagai informasi mengenai tips dan trik akan maupun ketika melakukan perjalanan menjadi pembicaraan teman-teman yang hadir.

Paparan narasumber mengundang banyak pertanyaan dan tak urung jawabannya juga menarik untuk didiskusikan oleh peserta-peserta yang hadir. Bisa dibilang Minggu lalu adalah Sunday sharing dengan peserta terbanyak sepanjang acara ini diselenggarakan. Gelak tawa maupun candaan kerap hadir di sela-sela obrolan dari dua narasumber yang memang menggeluti dunia backpacking sejak lama ini. Tidak heran setelah acara selesai banyak pertemanan baru yang tercipta diantara mereka.

Pembicara yang pertama yaitu mas Ragil Alex, penggiat dari komunitas Couchsurfing ini banyak memaparkan bagaimana dia yang menjadi tuan rumah atau yang lebih familiar disebut host menerima tamu di rumahnya baik dari dalam mapun luar negeri.

Di komunitas couchsurfing ini enggak melulu untuk menerima tamu kalau kamu memang tidak bersedia rumahmu dijadikan tempat singgah sementara, disitu kamu juga bisa hanya bertemu dengan pelancong yang kebetulan tinggal di kotamu.

Trus bagaimana kalau sebaliknya? Kalau kita mau melancong ke luar negeri? Di negara tempat melancongmu akan banyak host yang bisa kita singgahi, biasanya di profilnya menampilkan status Accepted Guest. Di website yang di dirikan di San Fransisco pada tahun 2004 ini juga ada review dari pengguna nya. Jadi kamu bisa memilih untuk tinggal dimana atau menjadi host siapa.

Banyak kejadian unik yang Mas Ragil ceritakan pada saat rumahnya dijadikan tempat singgah oleh pelancong dari Negara lain, diantaranya ketika ada pelancong dari Prancis yang tidak biasa memakai gayung saat di kamar mandi, ada juga kejadian dimana menjadikan bak mandi sebagai bathup sampai membawa minum keras ke dalam rumahnya. Eits, kamu bisa juga lho menuliskan peraturan ketat jika rumahmu dijadikan host. Misal dilarang bawa minum minuman keras, hanya menerima tamu cewek saja atau cowok saja, dilarang membawa pasangan, dilarang pulang lebih dari jam 10, atau lain sebagainya. Semua itu juga dibuat untuk kenyamanan baik dari sisi hostnya maupun pelancongnya sendiri. Untuk lebih jelasnya kamu bisa langsung mengunjungi couchsurfing.com.

Pembicara yang kedua yaitu mbak Serly, salah satu pekerja kantoran yang suka traveling ke manapun ditengah-tengah sibuknya pekerjaan kantornya. Tapi mbak yang mengaku masih single ini lebih banyak berpergian ke Indonesia bagian timur. Disana dia bercerita bagaimana banyaknya masyarakat kita yang masih jauh sangat tidak modern.

Pernah di suatu desa yang bernama desa Boti di daerah Timor Tengah Selatan jika hendak kesana maka kita harus menyerahkan sesajian ke pada raja berupa sirih, jika raja memakan sirih tersebut maka kita boleh masuk, jika tidak kita tidak diperbolehkan masuk, disini mereka tidak ada yang bisa berbahasa Indonesia jadi mereka menggunakan Bahasa Dawan sebagai bahasa sehari-hari dan menganut paham animisme.

Mbak Sherly juga bercerita ketika dia Labuan Bajo ketika dia berjumpa dengan anak-anak asli Labuan Bajo mereka tidak mengenal nama negaranya, yang mereka tau hanya ada warga Malaysia yang sering memberikan bantuan kepada mereka, sedangkan turis Indonesia sendiri kesana hanya sekedar datang dan berfoto-foto saja.

Ada juga ketika dia mengunjungi Pulau Sumba di Provinsi NTT yang dimana anak-anak disana yang bersekolah tidak memakai alas sepatu padahal wilayah-wilayah yang lain sudah banyak yang memakai sepatu. Bahkan ketika anak-anak kecil ini saat bermain di atas bukit tidak memakai alas kaki, karena untuk membeli sepatu di daerah ini harganya bisa 3 kali lipat dari harga normal di Jawa dan membutuhkan waktu sekitar 30 km untuk dapat sampai ke kotanya. Karena itulah Mbak Serly dan beberapa rekannya mencetuskan ide “Sepatu untuk Sumba”. Program ini sudah mempunyai banyak pos yang tersebar di seluruh Indonesia, jika anda tertarik untuk menyumbangkan “Sepatu untuk Sumba” bisa langsung ke facebook fanspage “Charity In Unity”.

Acara ditutup dengan acara narsis-narsisan dan ramah tamah. Walaupun banyak dari para peserta yang datang dari berbagai kelompok, adat, suku, komunitas, dan daerah tak canggung mereka membaur menjadi satu dan saling berkenalan satu sama lain, tuker-tukeran nomer telepon, hingga bertukar informasi dari mulai A-Z.

Well, semoga kedepannya dunia pariwisata di Indonesia dapat jaya dan bisa memberikan pengaruh positif kepada saudara-saudara kita yang berada di pelosok negeri. Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Indonesia.


TAGS kabar dari blog


-

Author

Brand Your Personal Brand Dengan Platform Blog Lokal Asli Indonesia Tes

Follow Me

Search

Recent Post